⚠️ Perhatian: Artikel ini adalah penulisan ulang dari berita publik “Rupiah Lesu, Bos BI Siapkan Jurus Jaga Stabilitas Nilai Tukar” oleh CNN Indonesia. Untuk analisis detail, baca laporan asli di sini.
Ringkasan
Nilai tukar rupiah sedang tertekan, dan Bank Indonesia (BI) tidak tinggal diam. Gubernur BI Destry Damayanti menjelaskan apa penyebab pelemahan rupiah belakangan ini, sekaligus membeberkan langkah-langkah yang disiapkan bank sentral untuk menjaga stabilitasnya. Mari kita bedah satu per satu.
Seberapa Lemah Rupiah Saat Ini?
Dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Rabu (23/9/2026), Destry menyampaikan bahwa rupiah per 22 September tercatat di level Rp17.855 per dolar AS. Angka itu menunjukkan pelemahan sebesar 0,78% dibandingkan posisi akhir Agustus 2026, yang oleh BI disebut masih terbatas.
Apa Penyebabnya?
Menurut Destry, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari kondisi global, yang saat ini penuh ketidakpastian. Ada dua faktor yang ia sorot:
1. Memanasnya konflik di Timur Tengah. Eskalasi tensi perang di kawasan tersebut mendorong harga komoditas naik dan meningkatkan risiko bagi perekonomian dunia.
2. Kebijakan moneter global yang masih ketat. Suku bunga acuan bank sentral AS (Federal Funds Rate/FFR) berada di kisaran 3,75–4% pada September 2026 dan masih berpeluang naik lagi. Kondisi ini ikut mengerek imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Akibatnya, aliran modal ke negara berkembang jadi lebih tertahan, sementara dolar AS makin perkasa.
Proyeksi BI: Rupiah Diperkirakan Stabil
Meski begitu, BI memperkirakan rupiah akan bergerak stabil ke depan. Menurut Destry, stabilitas itu ditopang oleh komitmen BI, imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali, serta prospek ekonomi domestik yang tetap baik.
Jurus BI: Intervensi di Berbagai Pasar
Untuk menjaga rupiah, BI akan memperkuat strategi intervensi di pasar valuta asing dengan mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang dimiliki. Intervensi dilakukan di dua lini:
- Pasar offshore (luar negeri): lewat instrumen Non-Deliverable Forward (NDF)
- Pasar domestik: lewat transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
Buat Anda yang baru mengenal istilahnya: NDF dan DNDF adalah kontrak berjangka valuta asing yang penyelesaiannya dilakukan dalam bentuk selisih kurs, tanpa pertukaran mata uang secara fisik.
Insentif Baru untuk Tarik Modal Asing dan Dorong Hedging
Selain intervensi, BI juga memperkuat insentif agar aliran modal asing masuk dan transaksi lindung nilai (hedging) di pasar valas makin ramai. Berikut rinciannya, yang berlaku mulai September 2026:
Swap Beli Lindung Nilai dengan underlying pendanaan eksternal (termasuk aliran modal portofolio, pinjaman luar negeri perbankan, dan investasi langsung asing). Insentifnya naik menjadi:
| Tenor | Insentif baru | Sebelumnya |
|---|---|---|
| 3 bulan | 15% | 12,5% |
| 6 bulan | 20% | 12,5% |
| 12 bulan | 25% | 12,5% |
DNDF lindung nilai. Insentifnya dinaikkan menjadi 25% untuk tenor 6 bulan dan 30% untuk tenor 12 bulan, dari sebelumnya 15%.
Local Currency Transaction (LCT). BI tetap memberi insentif berupa tambahan premi swap 10% dan pengurangan premi DNDF sebesar 10% untuk transaksi dalam kerangka ini.
Sinergi Kebijakan Fiskal dan Moneter
Destry menegaskan bahwa penguatan respons kebijakan ini diperlukan untuk menjaga ketahanan eksternal Indonesia di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Menurutnya, kondisi saat ini menuntut sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang lebih kuat.
Key Takeaways
- Rupiah tercatat Rp17.855 per dolar AS pada 22 September 2026, melemah 0,78% dibanding akhir Agustus 2026
- Penyebab utama menurut BI: tensi perang di Timur Tengah, harga komoditas naik, serta suku bunga AS di kisaran 3,75–4% yang masih berpotensi naik
- BI memperkirakan rupiah tetap stabil, ditopang imbal hasil menarik, inflasi terkendali, dan prospek ekonomi yang baik
- Intervensi dilakukan lewat NDF (offshore) serta spot dan DNDF (domestik)
- Mulai September 2026, insentif Swap Beli Lindung Nilai naik jadi 15–25% (sebelumnya 12,5%) dan insentif DNDF lindung nilai naik jadi 25–30% (sebelumnya 15%)
Sumber: CNN Indonesia | Tanggal: 25 September 2026
